Membuka halaman pertama…

Sebuah kisah nyata

Peluh dan Doa

Jalan Panjang Menuju Halal

Dua nama yang sama-sama berinisial “R.A.” Dipisahkan bertahun-tahun, lalu dipulangkan pada waktu yang paling tepat.

gulir pelan-pelan

Prolog

Dua huruf, satu angka, dan sebuah janji yang belum terucap

Riki hanyalah anak biasa yang dititipkan di pondok pesantren sejak kelas empat sekolah dasar. Ia tumbuh jauh dari pelukan orang tua, terbiasa menghitung uang saku sampai ke rupiah terakhir, dan belajar menangis tanpa suara.

Lalu datang Rofiidah — santri bercadar yang wajahnya bahkan tak pernah ia lihat, namun justru menggerakkan hatinya melebihi siapa pun. Dari sebuah Al-Qur’an yang tertinggal, sebuah jaket yang dipinjamkan di musim hujan, sampai buku catatan yang saling ditukar — lahirlah sebuah nama rahasia.

Bagi orang lain, “Ra2” mungkin tidak berarti apa-apa — hanya dua huruf dan sebuah angka. Tapi bagi kami, itu adalah janji kecil yang belum terucap.

Bab 7 — Percakapan di Atas Kertas

Linimasa

Tujuh tahun, dari niat sampai pulang

Setiap titik di bawah ini pernah terasa seperti akhir. Ternyata semuanya hanya jeda.

  1. 2016

    Niat di bawah langit pesantren

    Masih remaja, masih jauh dari kata mapan. Tapi di tahun itu ia memantapkan satu tujuan: menikah lewat jalan yang dijaga, apa pun harganya.

  2. 2018

    Sepasang mata di keramaian

    Ia baru resmi menjadi musrif ketika santri-santri baru berdatangan. Satu di antaranya bercadar — yang menarik perhatiannya justru cara ia membawa diri: tenang, menjaga, tidak banyak bicara.

    Santri bercadar yang mengubah segalanya
  3. Bab 4

    Al-Qur’an yang ditahan enam hari

    Sebuah mushaf tertinggal. Ia tidak langsung mengembalikannya — empat, mungkin sampai enam hari. Dari catatan hafalan di dalamnya, ia melihat sesuatu yang tak terlihat dari luar: kesungguhan.

  4. Bab 6

    Jaket di musim hujan

    Ia meminjamkan jaketnya sesaat, karena hujan, karena Rofiidah kedinginan. Baru bertahun-tahun kemudian ia tahu jaket itu dibawa ke mana-mana — bahkan dipakai tidur.

  5. Bab 7

    Buku catatan, dan lahirnya “Ra2”

    Lidahnya kelu kalau bicara, tapi jujur kalau menulis. Buku catatan itu berpindah tangan berkali-kali — sampai lahir sebuah nama yang hanya dimengerti berdua.

  6. Bab 8

    Telepon yang membuat semuanya sunyi

    Dengan tangan gemetar ia menelepon ayah Rofiidah, menyampaikan niat baiknya. Jawaban yang datang kemudian membuat jalan yang ia tempuh mulai menanjak.

  7. 2019

    Perpisahan yang tak sempat dipamiti

    Pertemuan terakhir itu berlalu seperti hari biasa — tanpa keduanya tahu bahwa itulah yang terakhir. Lalu semua yang dulu hangat, padam.

  8. Kehilangan kedua

    Ponsel yang dicuri

    Yang tersisa hanya kenangan di dalam ponsel — dan bahkan itu pun hilang. Tidak ada lagi yang bisa dipandangi ketika rindu datang.

  9. 2020

    Pandemi, dan luka yang mulai menutup

    Ketika dunia berhenti, ia ikut merenung. Lukanya tidak hilang — bekasnya akan selalu ada — tapi tidak lagi menganga.

  10. Akhir 2022

    Semarang

    Kota baru, pekerjaan baru, hati yang ditata ulang. Ia belum tahu bahwa di kota inilah seluruh jalan panjang itu akan menemukan ujungnya.

    Berdiri di halaman Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang
  11. 2023

    Sebuah pesan, lalu taaruf lima hari

    Nama yang paling lama ia kunci di ruang terdalam hatinya kembali mengetuk. Kali ini, jalannya menuju halal.

  12. Setelah Idul Kurban

    Modal lima ratus ribu

    Ia datang melamar bukan dengan tabungan besar, melainkan dengan Rp500.000 di kantong, niat yang bulat, dan seorang ayah di sampingnya. Lalu ia mendengar kalimat tentang mahar yang membuatnya terdiam lama.

    Dua pas foto untuk berkas pernikahan
  13. 9 September 2023

    Ijab kabul

    Ia mengikat janji seumur hidup dengan seseorang yang wajahnya belum ia lihat bertahun-tahun. Sederhana, dan justru karena itu terasa sakral.

    Prosesi akad nikah, 9 September 2023
  14. Bab 20

    Muadz — dan doa yang pulang

    Cinta yang belum ada menjelang pernikahan, tumbuh setelah akad. Pelan-pelan, sehari demi sehari. Lalu lahirlah seorang anak, dan sebuah rumah untuk hati yang akhirnya pulang.

    Muadz tertawa

Kotak kenangan

Delapan hal kecil yang selalu menariknya kembali ke masa lalu

Ketuk salah satunya untuk membuka kenangan di baliknya.

Keluarga

Empat nama, empat tanggal

Inilah orang-orang di balik seluruh cerita tadi — dan tanggal-tanggal yang menjadi penanda rumah kecil ini.

  • Riki Ariyandi

    Suami

    Riki Ariyandi

    Garut

  • Rofiidah Anshoriyah

    Istri

    Rofiidah Anshoriyah

    Tasikmalaya

  • Muadz Mudzoffar

    Anak pertama

    Muadz Mudzoffar

    Semarang

  • Mujtaba Faqih

    Anak kedua

    Mujtaba Faqih

    Ciamis

Dan satu tanggal lagi yang mengikat semuanya: — hari ijab kabul itu diucapkan.

Tunggu dulu

Masih ada sesuatu yang ingin kamu temukan…

Halaman ini bukan cuma untuk dibaca. Ada bagian yang harus kamu jawab sendiri.

Bagian interaktif

Seberapa ingat kamu?

Sembilan pertanyaan kecil tentang tanggal-tanggal dan nama-nama yang membentuk rumah ini.

Selingan

Catch the Heart

Tangkap sebanyak mungkin hati sebelum waktunya habis. Hati emas bernilai lebih besar.

Skor 0
Combo ×1
Waktu 30
Terbaik 0

Siap?

Ketuk hati yang muncul selama 30 detik.
Hati emas bernilai lebih besar.

Waktu habis

0poin

Lanjut cerita

Ringan, tanpa login, dan nyaman dimainkan dengan sentuhan jari.

Sering kali manusia mengira kehilangan adalah akhir dari segalanya, padahal Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik pada waktu yang paling tepat.

Bab 20 — Rumah untuk Hatiku Kembali

Perjalanan ini belum selesai…

Rumah tangga bukan akhir dari perjuangan — ia bentuk baru dari perjuangan itu sendiri. Bedanya, sekarang tidak lagi sendirian.