2016
Niat di bawah langit pesantren
Masih remaja, masih jauh dari kata mapan. Tapi di tahun itu ia memantapkan satu tujuan: menikah lewat jalan yang dijaga, apa pun harganya.
Membuka halaman pertama…
Sebuah kisah nyata
Jalan Panjang Menuju Halal
Dua nama yang sama-sama berinisial “R.A.” Dipisahkan bertahun-tahun, lalu dipulangkan pada waktu yang paling tepat.
Prolog
Riki hanyalah anak biasa yang dititipkan di pondok pesantren sejak kelas empat sekolah dasar. Ia tumbuh jauh dari pelukan orang tua, terbiasa menghitung uang saku sampai ke rupiah terakhir, dan belajar menangis tanpa suara.
Lalu datang Rofiidah — santri bercadar yang wajahnya bahkan tak pernah ia lihat, namun justru menggerakkan hatinya melebihi siapa pun. Dari sebuah Al-Qur’an yang tertinggal, sebuah jaket yang dipinjamkan di musim hujan, sampai buku catatan yang saling ditukar — lahirlah sebuah nama rahasia.
Bagi orang lain, “Ra2” mungkin tidak berarti apa-apa — hanya dua huruf dan sebuah angka. Tapi bagi kami, itu adalah janji kecil yang belum terucap.
Bab 7 — Percakapan di Atas Kertas
Linimasa
Setiap titik di bawah ini pernah terasa seperti akhir. Ternyata semuanya hanya jeda.
2016
Masih remaja, masih jauh dari kata mapan. Tapi di tahun itu ia memantapkan satu tujuan: menikah lewat jalan yang dijaga, apa pun harganya.
2018
Ia baru resmi menjadi musrif ketika santri-santri baru berdatangan. Satu di antaranya bercadar — yang menarik perhatiannya justru cara ia membawa diri: tenang, menjaga, tidak banyak bicara.
Bab 4
Sebuah mushaf tertinggal. Ia tidak langsung mengembalikannya — empat, mungkin sampai enam hari. Dari catatan hafalan di dalamnya, ia melihat sesuatu yang tak terlihat dari luar: kesungguhan.
Bab 6
Ia meminjamkan jaketnya sesaat, karena hujan, karena Rofiidah kedinginan. Baru bertahun-tahun kemudian ia tahu jaket itu dibawa ke mana-mana — bahkan dipakai tidur.
Bab 7
Lidahnya kelu kalau bicara, tapi jujur kalau menulis. Buku catatan itu berpindah tangan berkali-kali — sampai lahir sebuah nama yang hanya dimengerti berdua.
Bab 8
Dengan tangan gemetar ia menelepon ayah Rofiidah, menyampaikan niat baiknya. Jawaban yang datang kemudian membuat jalan yang ia tempuh mulai menanjak.
2019
Pertemuan terakhir itu berlalu seperti hari biasa — tanpa keduanya tahu bahwa itulah yang terakhir. Lalu semua yang dulu hangat, padam.
Kehilangan kedua
Yang tersisa hanya kenangan di dalam ponsel — dan bahkan itu pun hilang. Tidak ada lagi yang bisa dipandangi ketika rindu datang.
2020
Ketika dunia berhenti, ia ikut merenung. Lukanya tidak hilang — bekasnya akan selalu ada — tapi tidak lagi menganga.
Akhir 2022
Kota baru, pekerjaan baru, hati yang ditata ulang. Ia belum tahu bahwa di kota inilah seluruh jalan panjang itu akan menemukan ujungnya.
2023
Nama yang paling lama ia kunci di ruang terdalam hatinya kembali mengetuk. Kali ini, jalannya menuju halal.
Setelah Idul Kurban
Ia datang melamar bukan dengan tabungan besar, melainkan dengan Rp500.000 di kantong, niat yang bulat, dan seorang ayah di sampingnya. Lalu ia mendengar kalimat tentang mahar yang membuatnya terdiam lama.
9 September 2023
Ia mengikat janji seumur hidup dengan seseorang yang wajahnya belum ia lihat bertahun-tahun. Sederhana, dan justru karena itu terasa sakral.
Bab 20
Cinta yang belum ada menjelang pernikahan, tumbuh setelah akad. Pelan-pelan, sehari demi sehari. Lalu lahirlah seorang anak, dan sebuah rumah untuk hati yang akhirnya pulang.
Kotak kenangan
Ketuk salah satunya untuk membuka kenangan di baliknya.
Keluarga
Inilah orang-orang di balik seluruh cerita tadi — dan tanggal-tanggal yang menjadi penanda rumah kecil ini.
Suami
Istri
Anak pertama
Anak kedua
Dan satu tanggal lagi yang mengikat semuanya: — hari ijab kabul itu diucapkan.
Album
Sepuluh potong kenangan yang sempat terekam kamera. Ketuk untuk melihatnya lebih besar.
Tunggu dulu
Halaman ini bukan cuma untuk dibaca. Ada bagian yang harus kamu jawab sendiri.
Bagian interaktif
Sembilan pertanyaan kecil tentang tanggal-tanggal dan nama-nama yang membentuk rumah ini.
Selingan
Tangkap sebanyak mungkin hati sebelum waktunya habis. Hati emas bernilai lebih besar.
Ringan, tanpa login, dan nyaman dimainkan dengan sentuhan jari.
Sering kali manusia mengira kehilangan adalah akhir dari segalanya, padahal Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik pada waktu yang paling tepat.
Bab 20 — Rumah untuk Hatiku Kembali
Rumah tangga bukan akhir dari perjuangan — ia bentuk baru dari perjuangan itu sendiri. Bedanya, sekarang tidak lagi sendirian.